Peningkatan Interaksi Sosial Melalui Permainan Modifikasi Kooperatif Pada Murid Kelas I di Sekolah Inklusi
DOI:
https://doi.org/10.58230/1ekmhs05Keywords:
interaksi sosial, Permainan Modifikasi, siswa , Sekolah InklusiAbstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya interaksi sosial murid dalam pembelajaran di kelas I inklusif, yang ditunjukkan oleh adanya murid dengan perilaku menarik diri (withdrawn behavior), rendahnya partisipasi dalam kegiatan kelompok, serta dominasi beberapa murid dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang cenderung menekankan kompetisi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan permainan modifikasi kooperatif, mengidentifikasi peningkatan interaksi sosial murid, serta mendeskripsikan perubahan partisipasi aktif murid yang menunjukkan perilaku menarik diri. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan setiap siklus meliputi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Partisipan penelitian terdiri atas 27 murid kelas I SD Negeri 005 Muara Bengkal. Data dikumpulkan melalui observasi kelas menggunakan instrumen iklim kelas yang mengacu pada teori sistem ekologi Bronfenbrenner, wawancara guru, catatan lapangan, dan dokumentasi visual. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif yang didukung dengan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan interaksi sosial kelas secara bertahap setelah penerapan permainan modifikasi kooperatif. Permainan “Detektif Warna” diterapkan pada Siklus I dan dilanjutkan dengan permainan “Puzzle Petualangan” pada Siklus II, dengan aktivitas yang dirancang untuk meminimalkan kompetisi berbasis eliminasi dan mendorong pembagian peran yang setara. Interaksi sosial kelas mencapai 50% pada akhir Siklus I, meningkat menjadi 84,37% pada awal Siklus II, dan mencapai 90,63% pada akhir Siklus II. Murid yang menunjukkan perilaku menarik diri juga mengalami peningkatan partisipasi, yang terlihat dari meningkatnya kemauan berinteraksi dengan teman tanpa menjaga jarak fisik, komunikasi verbal yang lebih aktif dengan dukungan teman sebaya, serta meningkatnya inisiatif dalam kegiatan kelompok. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan permainan modifikasi kooperatif disertai dengan peningkatan interaksi sosial dan partisipasi murid dalam pembelajaran di kelas I inklusif. Permainan modifikasi kooperatif berpotensi digunakan sebagai strategi pembelajaran untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih kolaboratif dan inklusif.
Downloads
References
Ainscow, M. (2020). Promoting inclusion and equity in education: Lessons from international experiences. Nordic Journal of Studies in Educational Policy, 6(1), 7–16. https://doi.org/10.1080/20020317.2020.1729587
Arikunto, S. (2020). Penelitian tindakan kelas. Bumi Aksara.
Arikunto, S., Suhardjono, & Supardi. (2015). Penelitian tindakan kelas. PT Bumi Aksara.
Azwar, S. (2012). Metode penelitian. Pustaka Pelajar.
Barkley, E. F., Cross, K. P., & Major, C. H. (2014). Collaborative learning techniques: Teknik-teknik pembelajaran kooperatif. Nusa Media.
Beaudoin, M., et al. (2024). Social interaction in primary school as a predictor of long-term mental health. Journal of Child Psychology.
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press.
Chang, Y.-C., & Locke, J. (2016). A systematic review of peer-mediated interventions for children with autism spectrum disorder. Research in Autism Spectrum Disorders, 27, 1–10. https://doi.org/10.1016/j.rasd.2016.03.010
Chaudhary, R. (2026). Inclusion as an instrument for building resilience and social cohesion in the classroom. Global Education Review.
Creswell, J. W. (2016). Research design: Pendekatan metode kualitatif, kuantitatif, dan campuran (Edisi ke-4). Pustaka Pelajar.
Friend, M., & Bursuck, W. D. (2015). Including students with special needs: A practical guide for classroom teachers (7th ed.). Pearson.
Fuchs, D., et al. (2023). Interactional conflicts and peer neglect in inclusive settings. Exceptional Children Quarterly.
Hallahan, D. P., Kauffman, J. M., & Pullen, P. C. (2015). Exceptional learners: An introduction to special education (13th ed.). Pearson.
Heward, W. L. (2013). Exceptional children: An introduction to special education (10th ed.). Pearson.
Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (2018). Cooperative learning in the classroom. Interaction Book Company.
Kim, S., & Choi, S. (2020). The status and direction of inclusive education in South Korea. International Journal of Inclusive Education, 24(10), 1084–1101.
Kyndt, E., et al. (2021). Cooperative learning and student psychological well-being in elementary schools. Educational Research Review.
Mahabbati, A. (2017). Identifikasi anak dengan gangguan emosi dan perilaku di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Khusus, 9(2).
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2018). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (4th ed.). SAGE Publications.
Mukti, et al. (2023). Penghapusan hambatan sistemik dalam partisipasi sosial murid inklusi. Jurnal Inklusi Nusantara.
Ormanci, U., & Kacar, S. (2026). Examining the influence of assessment tool design on pre-service special education teachers’ self-efficacy, metacognition, and decision-making. SAGE Open, 16(2). DOI: 10.1177/21582440261446695
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. (2010). Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Timur Nomor 8 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi.
Pemerintah Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
Qonita, F. R., Ayu, D. P., Khotimah, N. A., & Minsih, M. (2024). Modifikasi media pembelajaran pendidikan jasmani sesuai kebutuhan anak berkebutuhan khusus di SLB. Jurnal Basicedu, 8(5), 3558–3571.
Santrock, J. W. (2011). Educational psychology (5th ed.). McGraw-Hill.
Schwab, S. (2018). Social participation of students with special educational needs. European Journal of Special Needs Education, 33(4), 441–443.
Seymour, H., Almack, K., & Kennedy, S. (2020). Play structures as barriers for children with special educational needs. International Journal of Play.
Slavin, R. E. (2022). Cooperative learning: Theory, research, and practice. Pearson.
Sumaryanti. (2019). Model pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah dasar inklusi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Tarmansyah. (2009). Inklusi: Pendidikan untuk semua. Luxima Metro Media.
UNESCO. (1994). The Salamanca statement and framework for action on special needs education. UNESCO.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.
Walgito, B. (2010). Pengantar psikologi umum. Andi Offset.
Wiratsiwi, W., & Sumadi. (2022). Analisis kesiapan guru sekolah dasar dalam implementasi pendidikan inklusif. Jurnal Basicedu, 6(3), 4811–4820.

